Hidup Menunjukkan Cakarnya

Hidup menunjukkan cakarnya saat titik kedewasaan ingin kita raih. Tiap orang akan melihat cakar berbeda. Dan akan menghadapi cakar itu sesuai pola pikirnya. Peringatan dan cara menghadapinya sebenarnya telah diberikan, hanya saja, ada yang mengambil dan ada yang tidak mengindahkan.

Hidup telah menunjukkan cakarnya. Karena masing-masing orang telah melihatnya. Di tiap sudut kamar sebelum terlelap, auman yang memekakkan telinga akan keganasan seakan menjadi pelengkap harian.

Hati kadang begitu naif. Menyaksikan segala sudut yang memungkinkan sehingga kadang membuatnya lemah. Prinsip. Entah prinsip apa yang ia harus pegang untuk menguatkan pundak dan langkah. Kadang, itu yang terbetik sejenak.

Lemah. Ya. Proses menguatkan diri, mungkin sedang berjalan saat menyadari kelemahan. Lemah menghadapi cengkraman cakar yang bahkan tak pernah terpikir sebelumnya. Tapi, manusia punya sifat kuat bertahan hidup. Sayangnya, tekad kuat takkan berkutik saat semuanya terlambat.

Tirani Masa Lalu

“Past makes who I am now”

Bukankah kita sering mendengar hal demikian. Dengan rasa tegar dan bangga. Ya, bagi orang-orang sukses hal itu adalah sesuatu yang membanggakan sebab masa lalu yang pahit diputar menjadi batu loncatan bagi mereka. Tetapi, di luar sana, di bumi yang dihuni trilyunan manusia ini, masa lalu dan masa kini yang seakan teman telah menjadi musuh pula bagi diri mereka. Mereka, yang kini diliputi kehinaan dan kesakitan, rasa sakit yang begitu dalam. Dan setengah dari mereka ada PADAKU.

Semua tergantung bagaimana kita memandangnya

Benarkah???

Menurutku, semua malah tergantung bagaimana kita memanipulasi hati kita untuk menerima dan membuatnya menjadi sesuatu yang kita inginkan. Pikiran hanyalah senjata, hatilah penggunanya. Senjata akan membunuh siapa, tergantung yang memegangnya. Dalam kasus ini, hati kita. Dan bagaimana cara kita memanipulasi hati kita “memandang” sesuatu adalah sebuah akibat. Akibat dari ilmu yang kita peroleh. Ilmu apapun. Bacaan, Pelajaran, Tontonan, bahkan Pengalaman. Itu bagian dari ilmu. Sayangnya, tiap orang memiliki ilmu yang berbeda.

Lalu??

Ya, jawabannya bukankah telah kutuliskan?

Bahwa memang benar, cara memandang masa lalu membentuk karakter kita hari ini. Karakter yang kita harapkan akan menuntun kepada kesuksesan. TETAPI, ilmulah yang membuat cara pandang. Jadi, kau dan aku harus mencari dan menambah Ilmu. Dan perlu kita ingat, ilmu agama adalah ilmu yang paling bermanfaat dalam segala hal, termasuk hal ini.