dakwah · literasi · pendidikan · Pikir · Tak Berkategori

Antara Aktivis Dakwah dan Literasi

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Kita melihat bagaimana teknologi hari ini telah menjadi raja. Di setiap sisi bahkan di tiap rumah pasti ada minimal satu teknologi di dalamnya, misalnya gadget. Menurut Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018, tercatat 171,17 juta jiwa atau lebih setengah populasi Indonesia yang menggunakan internet.

Belakangan ini, banyaknya artis tanah air yang berhijrah membuat gelombang dakwah melalui media sosial semakin berkembang. Berdasarkan yang penulis telusuri melalui pencarian instagram, ada sekitar 8,1 miliar tagar dengan kata kunci hijrah (#hijrah), dan sebanyak 3,9 miliar tagar dengan kata kunci pemuda hijrah (#pemudahijrah). Di media sosial youtube pun tema-tema hijrah yang diunggah oleh berbagai youtuber, artis, dan ustadz membuat dakwah semakin dikenal.

Gelombang hijrah dan semangat belajar tentang Islam melalui media sosial ini di satu sisi menjadi hal yang positif, tapi di sisi lain juga menjadi tantangan besar, terutama karena masih banyaknya konten-konten negatif dan palsu (hoaks). Konten negatif dan hoaks ini bukan hanya menyasar orang-orang awam atau yang baru belajar agama, bahkan sebagian aktivis dakwah juga terjatuh kepada perkara ini.

Salah satu contoh yang terjadi pada media sosial facebook misalnya, ungkapan seperti “jangan dishare tapi harus copas (baca: copy-paste)” untuk status facebook yang berisi propaganda sering penulis dapatkan. Sekilas, tampaknya baik-baik saja, tapi sebenarnya hal ini malah akan mengaburkan sumber informasi dari siapa tulisan tersebut berawal. Apalagi jika ternyata oknum yang membuat propaganda tersebut menghapus postingan itu setelah menjadi viral.

Alasan mengapa bukan hanya orang awam yang tergerak untuk melakukan “copas” konten yang disebarkan tetapi juga para aktivis dakwah, adalah karena konten yang berisi propaganda atau hoaks tersebut menimbulkan keresahan dan kekhawatiran, atau berupa dukungan terhadap sesuatu yang tampak dizalimi sehingga dorongan untuk langsung menyebarkannya pun dilakukan. Oleh sebab itu, literasi menjadi satu hal yang penting untuk ditekankan kepada masyarakat terutama aktivis dakwah.

Seorang aktivis dakwah harus tahu dari siapa dan apa isi konten yang akan ia sebarkan. Apakah isi konten tersebut bermanfaat? Apakah isi konten tersebut tidak akan membuat teror di masyarakat? Apakah isi informasi akurat? Apakah tulisan itu adalah opini atau fakta? Seorang aktivis dakwah harus teliti dengan beragam informasi yang diperoleh.

Islam adalah agama yang ilmiah. Ini dapat kita lihat dari bagaimana jalur periwayatan Al-qur’an dan hadits masih terjaga. Bukan hanya penulisan yang harus menuliskan sumber saja, tetapi juga profil dari sumber informasi menjadi bahan pertimbangan dalam kajian ilmiah islam. Hal ini harus dimiliki oleh setiap muslim, apalagi jika mereka adalah para aktivis dakwah. Aktivis dakwah bukan hanya harus tahu, tetapi juga bijak dalam kaitannya dengan ilmu dan informasi.

Semoga semangat para aktivis dapat terus menyala dengan kaidah ilmiah yang tepat. Dan semoga umat Islam tidak menjadi umat yang tidak berdaya melawan derasnya informasi yang beredar sehingga dapat dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Pikir

Gadget vs Buku Resolution!

Hey… assalamu’alaykum 😀

Well, sejak detik ini aku akan memulai menulis tanpa ragu. Hehe. Tulisan akan menunjukkan karakter penulisnya. Jadi, aku akan menulis dengan gayaku. Gaya tulisku biasanya malah lebih komedi. Bisa buka link “Me & Counseling“. Adapun masalah counseling free. Sebenarnya lebih kepada berbagi ya daripada konsultasi. Soalnya saya juga masih minim.

Oh yup, pada tulisan kali ini aku akan berbagi tentang hakikat buku, menurutku.

Prologue Makna Buku

Buku adalah jendela dunia

Dari kecil sampai sekarang, pepatah itu masih terngiang. Ya, aku kurang tahu sih itu termasuk pepatah, nasihat, atau apa. Yang jelas, itu perkataan bijak. Hehe. Ya, kalau kita menilik kalimat itu, menur Lanjutkan membaca “Gadget vs Buku Resolution!”