My teaching journey: Pelihara Kutu!

My teachinh journey sabtu 15/8/15

Pelihara kutu

Nah, kali ini pengalamannya lebih unik dari yang pernah pernah! Hehe. Seusai belajar seperti biasa saya berbincang-bincang dulu dengan Kak Nayati. Sambil bercerita, kak nayati mencarikan kutu anaknya, shafiyyah. Basa-basi, saya tanya saja: kenapaki nda pake obat kutu kak?, dan jawabannya sangat mengejutkan. “Kutu disengaja memang ini dek disimpan di rambutnya”, setengah heran saya mencoba menerka,”oh, siapa yang bawa kak?” Saya kira maksudnya adalah dia tidak tahu kutu dari mana. Eh, setelah dijelaskan bahwa kutunya awalnya didapatkan dari syahid, kakak pertamanya. Tapi kemudian kak nayati bilang ke anaknya, “nak, ada kutu, kasih simpanki nah di kepalata’ ” lalu kutunya disimpan dan ditunggu sampe beranak pinak. Kalau belum berkembang, disimpan lagi. Sambil tertawa saya bilang, “oh masya Allah di’ kak, yang lain pelihara apaaa gitu, kita’ pelihara kutu”. Setelah itu, akhirnya saya tahu. Alasan utamanya adalah: membangun keakraban dengan anaknya. Nah nah nah. Sementara mencari kutu, biasanya menjadi ajang tukar cerita antara kak nayati dan anaknya. Kalo kita? Aah, boro-boro. Yang ada kalo nyari kutu, ibu-ibu kita males banget ya? Hehe, jarang banget ada yang dengan senang hati mencarikan kutu anaknya demi membangun keakraban. Subhanallah! Saya benar-benar terkesima!

Iklan

My teaching Journey: Kecil dan Mujarab!

My teaching journey selasa 11/8/15

Kecil dan Sangat Mujarab!

Di akhir pelajaran hari itu, saya mengiming-imingi fathin dengan hadiah agar cepat menulis seperti biasanya. Soalnya fathin susaah banget klo disuruh nulis. Tapi belum saya beritahu apa hadiahnya yang bisa dibagi dengan shafiyyah. Pas selesai pelajaran, saya berikan fathin Taro dan dengan sekejap ia langsung berlari ke ibunya dan membisik ibunya sesuatu yang memang telah saya rasa,”oh sepertinya ia tidak boleh makan ini”. Dan benar, saat kembali, ia mengatakannya.

Akhirnya, lanjutlah saya cerita-cerita sama kak nayati, ibunya. Katanya beliau memang selalu mengajarkan ke anak-anaknya bahwa pertama kali melihat makanan kemasan memang cek label halal dan apakah makanan itu thayyiban alias baik atau tidak. Masya Allah! Saat itu saya seperti tertampar dan tertohok mendengarnya. Ya, memang sih setelah saya pikir-pikir, makanan masa kecil saya sangaat jauh dari ajaran itu. Alhasil, jadilah saya anak yang picky dengan makanan. Dan jeleknya, pickynya saya malah soal rasa saja. Padahal benar, islam itu mengajar agar kita memakan yang halal dan baik. Diajar sejak kecil hingga dewasanya terus mengingat dan telah biasa. Wah, pelajaran sangat berharga hari ini!

#ceritainspiratif

My Teaching Journey: Perkenalkan!

Hey hey.. hello

Assalamu’alaykum warohamtaullah wabarookatuh.

Well, kali ini aku menulis tulisan lepas (lagi). ‘Kali’ ini dan beberapa ‘kali’ ke depan aku ingin menceritakan beberapa pengalaman setelah menjadi guru privat bahasa Inggris bagi seorang anak home schooling. Aku bukan guru, dan nggak pernah menempuh pendidikan keguruan. Jadi, istilah ngajar di “masa kuliah” cukup membuat hatiku kembang kempis (eh?), berbunga-bunga maksudnya. Lanjutkan membaca “My Teaching Journey: Perkenalkan!”

Resep Herbal Balita & Anak: Diare

Sepertinya untuk perkenalan apa itu diare sudah tidak perlu. Para bunda dan ummu pun sering kerepotan untuk mengatasi penyakit yang umum terjadi pada anak ini. Biasanya yang diberikan puskesmas adalah oralit tetapi bunda, oralit hanya untuk mengganti cairan pada tubuh tanpa mengobati diarenya. Intinya anak mengalami diare jika mengalami gejala seperti berikut:

  • Nyeri perut, keram, buang air besar encer atau tidak berbentuk
  • Keinginan BAB tidak dapat dikendalikan
  • Demam

Lanjutkan membaca “Resep Herbal Balita & Anak: Diare”