Tak Berkategori

Ikhlas itu..

Ikhlas menjadi hal yang sangat diperhatikan dalam agama ini.. dan para sahabat, kemudian ulama stelehanya sangat menekankan betapa besarnya perkara niat ini.

Amalan besar bisa jadi kecil karen niat, begitu pun sebaliknya. Dan bahkan setan tidak bisa menyesatkan mukhlashin atau irang-orang yang ikhlas. MasyaAllah. Semoga Allah senantiasa menjaga niat-niat kita..

Tak Berkategori

Jika Hidup Hanya tentang Cita

Jika saja hidup ini hanya tentang cita-cita dunia

Mungkin kau memang akan mendapatkan harta atau tahta

Tapi belum pasti di sana kebahagiaan bermuara

Karena sejatinya hati itu rindu kepada pemiliknya

Kepada Dzat yang telah menciptakannya

Lanjutkan membaca “Jika Hidup Hanya tentang Cita”

Tak Berkategori

Biar Rintik Mengajariku

Biarkan rintik mengajariku

Arti senyum di balik wajah lusuh penuh debu itu

Yang selalu kutatap di balik jendela buram,

Kala langit telah temaram

 

Biarkan rintik mengajariku

Bahagia yang begitu cilik

Secilik tawamu ditemani koran berbungkus plastik

Yang basah terkena rintik

 

Biarkan rintik ini mengajariku

Nada dan kata yang tak pernah kudengar

Tapi begitu merasuk ke dalam debar

Tentang bahagia yang tak pernah pudar

 

Di balik tawa renyah dari ibu panti

atau dari teman yang saling menyayangi

atau darimu yang berlarian di tengah rintik

Di bawah lampu lalu lintas yang menjadi saksi

 

__ummu arqam__

#puisifiksi

Tak Berkategori

Oh, ternyata hatiku membutuhkan itu

Pernahkah hatimu merasa begitu merana?

Seakan ia diisi oleh begitu banyak noda yang mengeruhkan.

Saat iman pun terasa meluncur turun, semakin menambah kegersangan.

Apalagi jika masa-masa hamil menyapa..

saat hormon juga ingin mengambil bagian untuk mempengaruhi suasana hati.

Subhanallah.. dorongan keburukan pun mulai membisik..

dan hati yang begitu lemah pun mulai bergoyang..

Lanjutkan membaca “Oh, ternyata hatiku membutuhkan itu”

mikrobiologi · pharmacy · Pikir · Tak Berkategori

Bilik “Disinfeksi”, Benarkah?

Assalamu’alaikum..

Belakangan, semenjak virus corona (COVID-19) mewabah dan (sepertinya) pemerintah tidak bisa “memaksa” masyarakat untuk secara total tidak keluar rumah, “bilik disinfeksi” atau disebut disinfection chamber menjadi marak diadakan. Di gedung pemerintahan, halte bus, dan ruang publik lain pun menyediakan bilik disinfeksi ini.

Setelah banyaknya keberadaan bilik yang diharapkan dapat meredam penularan COVID-19, masalah baru mulai muncul: apakah aman menggunakan bilik disinfeksi? Apakah penamaan bilik disinfeksi sudah tepat? Dan apakah sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa bilik disinfeksi ini efektif?

Berdasarkan tanggapan yang ditulis oleh Sekolah Tinggi Farmasi ITB melalui lamannya fa.itb.ac.id, penggunaan desinfektan kurang tepat digunakan kepada manusia karena dapat menimbulkan efek tidak baik bagi kesehatan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini juga telah disebutkan oleh World Health Organization (WHO) di lamannya yang bertajuk “Myth Busters”, semprotan desinfektan berupa alkohol dan klorin tidak disarankan pada manusia karena akan merusak pakaian dan berbahaya pada kulit, paru-paru dan membran mukosa. Bukan hanya bahan kimia, penggunaan sinar ultraviolet pun tidak disarankan karena akan mengiritasi kulit.

Apa itu disinfeksi? Bedanya dengan sterilisasi dan antiseptik

Untuk mengetahui alasan di balik bahayanya bilik disinfeksi, kita harus tahu dulu apa itu disinfeksi? Ada pula yang sampai menyebutkan sterilisasi? Keduanya, disinfeksi dan sterilisasi merupakan proses dekontaminasi, tetapi memiliki perbedaan baik dalam proses maupun hasil.

Disinfeksi adalah proses menghilangkan mikroorganisme yang terdapat pada suatu objek (yang tidak hidup), tapi tidak dengan endospora/sporanya. Sedangkan sterilisasi adalah proses untuk menghilangkan seluruh mikroorganisme pada suatu objek, termasuk endospora/sporanya. Artinya, dalam tingkatan nihil mikroorganisme, sterilisasi berada di puncak karena juga membunuh spora bakteri/mikroba lainnya.

Kenapa makhluk hidup tidak bisa di-disinfeksi atau di-sterilisasi?

Pertama, karena tubuh manusia terdiri dari milyaran mikroba! Mikroorganisme itu tidak selamanya buruk, ada yang disebut flora normal yaitu bakteri/mikroorganisme yang ada pada tubuh manusia dan bersimbiosis mutualisme dengan manusia itu sendiri. Mereka yang biasa kita dengar dengan sebutan “bakteri baik”.

Kedua, proses atau bahan dalam proses disinfeksi dan sterilisasi itu sendiri. Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara: fisik dan kimia. Secara fisik, sterilisasi dilakukan dengan pemanasan pada suhu 160-180 derajat Celsius selama 1-2 jam, pembakaran, atau menggunakan autoclave yaitu alat dengan tekanan uap tinggi, termasuk pula penyinaran dengan sinar UV. Secara kimia, sterilisasi menggunakan bahan seperti halogen (klorin, iodin), alkohol, fenol, gas etilen oksida, formaldehid, dan lainnya yang tentu sangat toksik untuk tubuh makhluk hidup.

Mirip dengan sterilisasi, disinfeksi juga menggunakan bahan kimia yang disebut desinfektan. Desinfektan yang kadarnya tinggi (high-level desinfectant) dapat berfungsi sebagai sterilan/ bahan kimia untuk proses sterilisasi dengan durasi paparan yang sesuai, sedangkan desinfektan kadar rendah (low-level desinfectant) dapat membunuh bakteri vegetatif tapi tidak dengan sporanya. Beberapa desinfektan dapat menjadi sterilan saat durasi paparannya lama (3-12 jam). Artinya, kemampuan bahan desinfektan untuk disinfeksi ditentukan oleh kadar dan durasi paparan dan ini membahayakan bagi makhluk hidup.

Mengingat hal ini, penamaan bilik disinfeksi menjadi kurang tepat. Sebab, penggunaan bahan pada bilik tersebut seharusnya bukanlah desinfektan melainkan antiseptik yang aman untuk makhluk hidup.

Apa itu antiseptik? Antiseptik adalah germisida (bahan yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme patogen) yang dapat digunakan untuk makhluk hidup. Secara umum, antiseptik digunakan untuk makhluk hidup dan bukannya benda mati. Benzalkonium klorida yang diklaim aman untuk makhluk hidup dan digunakan pada bilik di Surabaya misalnya, menjadi tidak tepat disebut desinfektan melainkan antiseptik. Lebih tidak tepat jika dikatakan bilik sterilisasi. Menggunakan kata antisepsis menjadi pilihan yang mungkin dapat dipertimbangkan untuk tidak menghasilkan kebingungan, dengan memperhatikan bahan yang digunakan pad bilik antisepsis tersebut yaitu bahan antiseptik yang aman.

Terlepas dari itu semua, sebaiknya penggunaan bilik yang demikian memang tidak terlalu rutin dan tetap mengoptimalkan physical distancing serta mencuci tangan dengan benar dan rutin. Cara itu akan menjadi lebih efektif untuk menjaga kesehatan.

Inspirasi dan Rujukan:

https://fa.itb.ac.id/tanggapan-terhadap-disinfektan-bilik/

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters

https://www.cdc.gov/infectioncontrol/guidelines/disinfection/introduction.html#

Tak Berkategori

6 Meme Ini Menggambarkan Perjuangan Anak Farmasi yang Tidak Mudah

Mereka yang kuliah di farmasi seringkali dianggap berbeda dengan fakultas kesehatan yang lain, padahal perjuangan mahasiswa farmasi juga tak kalau epik. Beberapa meme ini menggambarkan perjuangan mahasiswa farmasi yang tak mudah:

1. Tugas yang tak habis-habis

Banyaknya tugas anak farmasi seringkali membuat begadang: persiapan laboratorium, jurnal, tugas pendahuluan, dan seabrek persiapan lain, belum lagi tugas kuliah.

2. Sabar walau tak paham

Harus tetap optimis walaupun saat kuliah tidak mengerti dengan pembahasan dosen.

3. Pencari momen rebahan

Saat-saat menunggu masuk lab atau antar kuliah menjadi momen emas untuk beristirahat. Itu pun kalau sudah dapat ACC asisten :).

3. Sabar dengan banyaknya laporan tulis tangan

Jari yang luka atau bengkak adalah hal yang biasa karena sangat sering menulis.

4. Harus teliti baca resep

Usaha dan teliti harus selalu diutamakan agar tak salah memberikan resep kepada pasien.

6. Ups, terlalu pink!

Proses titrasi dan menimbang adalah hal yang sering menguji kesabaran.

Mudah-mudahan para calon farmasis selalu semangat dan optimis untuk mengejar cita-cita. Minimal bermanfaat bagi keluarga.

Tak Berkategori

Perbedaan Direct, Indirect, dan Sandwich ELISA

Lanjutan dari artikel: https://blueskypharmacy.wordpress.com/2019/12/16/memahami-eias-feias-dan-elisa-lebih-mudah-disertai-gambar-dan-alasan-penggunaan-bahan/

enzyme-linked immunosorbent assays (ELISA) adalah jenis EIA (Enzim immunoassay) yang secara umum digunakan. Pada ELISA langsung (direct ELISA), antigen diimobilisasi di sumur plat mikrotiter (gambar sumuran pada Gambar 2). Antibody yang spesifik dengan antigen tertentu dan terkonjugasi dengan enzim ditambahkan ke masing-masing sumur. Jika antigen yang dicari tersedia, antibodi akan berikatan. Setelah mencuci untuk menghilangkan antibodi yang tak terikat, substrat tak berwarna (kromogen) ditambahkan. Keberadaan enzim akan mengubah substrat menjadi produk akhir yang berwarna (Gambar 1). Walaupun cara ini lebih cepat karena hanya menggunakan satu antibodi, kerugiannya adalah sinyal dari ELISA langsung lebih rendah (sensitivitas rendah).

Gambar 1. ELISA langsung
Gambar 2. (A) sandwich ELISA, (b) Plat ELISA yang menunjukkan pengenceran antibodi(kiri) dan antigen (bawah). Konsentrasi lebih tinggi menghasilkan warna lebih gelap.

 

Dalam Sandwich ELISA, tujuannya adalah menggunakan antibodi untuk secara tepat menghitung antigen spesifik dalam larutan, seperti antigen dari patogen, protein serum, atau hormon dari darah atau urin sebagai contoh. Tahap pertama dari sandwich ELISA adalah menambahkan antibodi primer ke semua sumur di plat mikrotiter (Gambar 2). Antibodi menempel di plastik melalui interaksi hidrofobik. Setelah waktu inkubasi yang sesuai, antibodi tak terikat dicuci.

Pencuci yang dapat dibandingkan digunakan pada masing-masing urutan tahap untuk memastikan bahwa hanya molekul terikat spesifik yang tetap tinggal di plat. Blocking-protein kemudian ditambahkan (seperti albumin atau kasein protein susu) untuk mengikat situs protein-pengikat nonspesifik di sumur. Beberapa sumur akan menerima sejumlah terukur antigen untuk membangun kurva standar, dan larutan antigen yang tak diketahui ditambahkan ke sumur lain. Antibodi primer menangkap antigen dan, diikuti pencucian, antibodi sekunder ditambahkan, yaitu antibodi poliklonal yang terkonjugasi ke enzim. Setelah pencucian akhir, substrat tak berwarna (kromogen) ditambahkan dan enzim akan mengubahnya menjadi produk akhir yang berwarna. Intensitas warna dari sampel akibay produk akhir diukur dengan spektrofotometer. Jumlah warna yang dihasilkan (diukur sebagai absorban) secara langsung proposional dengan jumlah dari enzim, yang juga secara proporsional dengan jumlah antigen yang terbaca. ELISA sangat sensitif, memungkinkan antigen dikuantifikasi hingga range nanogram ( 10 [SUP] g) per mL.

Padaa indirect ELISA, kita mengkuantifikasi antibodi dengan antigen-spesifik daripada antigennya. Kita dapat menggunakan indirect ELISA untuk mendeteksi antibodi yang melawan banyak jenis patogen seperti Borrelia burgdorferi (Lyme disease) dan HIV. Ada 3 perbedaan penting antara Indirect dan Direct ELISA yang ditunjukkan pada gambar 3. Daripada menggunakan antibodi untuk menangkap antigen, indirect ELISA dimulai dengan menempelkan antigen yang sudah diketahui (cth: peptida dari HIV) ke dasar sumur plat mikrotiter. Setelag menghalau situs tak terikat pada plat, serum pasien ditambahka; jika antibodi ada (primer antibodi), ia akan berikatan dengan antigen. Setelah mencuci protein tak terikat, antibodi sekunder dengan enzim terkonjugasinya dihadapkan melawan antibodi primer (cth: antihuman immunoglobulin). Antibodi sekunder menjadikan kita mampu mengukur berapa banyak antibodi yang antigen-spesifik ada di serum pasien dengan melihat intensitas warna dari produk akhir (menggunakan reaksi kromogen-enzim terkonjugasi).

Selalu ada kemungkinan reaktivitas-silang terhadap antibodi yang dihadapkan melawan beberapa antigen lainnya, yang mengarah kepada hasil positif palsu. Sehingga kita tidak bisa secara definitif mendiagnosa infeksi HIV (atau infeksi lain) berdasarkan uji tunggal Indirect ELISA. Kita harus mengkonfirmasi tes suspek yang positif, yang seringnya baik menggunakan immunoblot yang dapat mengidentifikasi keberadaan peptida spesifik dari patogen, atau tes untuk mengidentifikasi asam nukleat yang ada pada payogen, seperti reverse transcriptase PCR (RT-PCR) atau nucleic acid antigen test.

Gambar 3. a. Indirect ELISA, b. Direct ELISA

Artikel tentang ELISA:

https://blueskypharmacy.wordpress.com/2015/06/08/uji-elisa-prinsip-bahan-yang-dibutuhkan-prosedur-dan-hasil/

https://blueskypharmacy.wordpress.com/2019/12/16/memahami-eias-feias-dan-elisa-lebih-mudah-disertai-gambar-dan-alasan-penggunaan-bahan/

https://blueskypharmacy.wordpress.com/2020/03/25/eias-dan-feias-bag2-immunostaining-elisa/

https://blueskypharmacy.wordpress.com/2020/03/25/eias-dan-feias-bag2-immunostaining-elisa/

https://blueskypharmacy.wordpress.com/2020/03/27/perbedaan-direct-indirect-dan-sandwich-elisa/