Mengenal LSD, Halusinogen Mematikan

Udah kenal ‘kan ya sama istilah “ngelem”? Mungkin di antara pembaca masih ada yang bertanya-tanya,

“Memang apa sih bahayanya ngelem?”

Yang kita tahu adalah efeknya yang sangat mirip dengan pecandu narkoba sehingga membuat istilah “ngelem” ini menjadi sangat dikhawatirkan. Terlebih lagi karena pelaku nge-lem ini kebanyakan merupakan anak-anak. Sekarang, kita akan kenalan dulu sama Pak LSD yang menjadi penyebab utama kenapa ngelem menjadi sangat berbahaya. Lanjutkan membaca “Mengenal LSD, Halusinogen Mematikan”

Iklan

My teaching journey: Pelihara Kutu!

My teachinh journey sabtu 15/8/15

Pelihara kutu

Nah, kali ini pengalamannya lebih unik dari yang pernah pernah! Hehe. Seusai belajar seperti biasa saya berbincang-bincang dulu dengan Kak Nayati. Sambil bercerita, kak nayati mencarikan kutu anaknya, shafiyyah. Basa-basi, saya tanya saja: kenapaki nda pake obat kutu kak?, dan jawabannya sangat mengejutkan. “Kutu disengaja memang ini dek disimpan di rambutnya”, setengah heran saya mencoba menerka,”oh, siapa yang bawa kak?” Saya kira maksudnya adalah dia tidak tahu kutu dari mana. Eh, setelah dijelaskan bahwa kutunya awalnya didapatkan dari syahid, kakak pertamanya. Tapi kemudian kak nayati bilang ke anaknya, “nak, ada kutu, kasih simpanki nah di kepalata’ ” lalu kutunya disimpan dan ditunggu sampe beranak pinak. Kalau belum berkembang, disimpan lagi. Sambil tertawa saya bilang, “oh masya Allah di’ kak, yang lain pelihara apaaa gitu, kita’ pelihara kutu”. Setelah itu, akhirnya saya tahu. Alasan utamanya adalah: membangun keakraban dengan anaknya. Nah nah nah. Sementara mencari kutu, biasanya menjadi ajang tukar cerita antara kak nayati dan anaknya. Kalo kita? Aah, boro-boro. Yang ada kalo nyari kutu, ibu-ibu kita males banget ya? Hehe, jarang banget ada yang dengan senang hati mencarikan kutu anaknya demi membangun keakraban. Subhanallah! Saya benar-benar terkesima!

Pelajar-Pengajar di Atas Ironi

Dunia yang kita jalani ini begitu lucu dan menggemaskan, bukan begitu? Berjalan dengan ironi yang nanti lama baru kita sadari. Seperti menginjak runtutan lubang berulang-ulang tapi lama baru sadar kalau kita tengah menginjak lubang.

Sejujurnya, menjadi pelajar dan pengajar di saat yang bersamaan membuka mataku tentang kesalahan-kesalahan yang kulakukan selama masa akademik berlangsung. Kesalahan itu sebenarnya 70% tidak kusengaja, dan 30%nya semi sengaja. Ya, Anda bisa saja berpikir apapun maksud semi-sengaja.

Saat menjadi pelaku dan mendapat perlakuan negatif, kebanyakan dari kita akan me-masa-bodo-i kata-kata menusuk walaupun kita akan mengingatnya. Lalu setelah itu, kita akan menjadi enggan dan segan terhadap mereka. Masalahnya, menurut kita, itulah titik puncak kemampuan kita yang mereka tak pahami.

Dan memang benar, menjadi pengajar dan mendapatkan anak didik bermasalah tanpa mengetahui penyebabnya juga akan memberi kesan buruk di hati pengajar. Pengajar juga adalah manusia yang tidak bisa mengetahui segala-galanya masalah atau cara pikir anak didiknya. Dan di sinilah kesalutanku kutujukan, pada mereka pengajar yang sangat gigih dengan anak didiknya.

Pengajar bukanlah hakim yang bebas memutuskan bahwa anak didik A baik dan B buruk.
Pengajar bukanlah juri yang hanya menilai hasil lalu menentukan pemenang.

Pengajar adalah mereka yang mengajar. Mengajar anak didik mereka tapi tidak memaksakan kehendak mereka. Itu karena kita pernah menjadi seorang pelajar yang juga sering bandel atau kadang jatuh di tempat yang salah. Tapi hal itu bukanlah untuk membenarkan perilaku anak didik yang sedang “galau terhadap jati diri”, melainkan mengarahkan pandangannya dan bersabar menunjukkan jalannya.

Karena pengajar adalah manusia yang juga melakukan kesalahan, maka sepatutnya pula mereka menyadari kebutuhan untuk terus dan terus membenahi diri. Bukan hanya dari sisi akademik pengajar, melainkan juga mentalitasnya.

Ya, saya pun masih pengajar amatir.Tapi, setidaknya itulah yang saya pikirkan.

Manipulasi Hati: Aku heran, boleh ‘kan?

Aku heran dengan dunia ini. Boleh ‘kan?

Di satu sisi dunia ini bergerak cepat dalam perasaan. Di sisi lain bergerak cepat dengan perbuatan. Di sisi lainnya lagi, keduanya bergerak cepat berbarengan. Dan aku, hanya berdiri diam dan tenggelam dalam pikirku.

Mereka bertanya “apa?”, aku bertanya “mengapa?”. Mereka bertanya “bagaimana?”, aku bertanya “untuk apa?”. Untuk alasan itu, aku heran dengan dunia ini, boleh ‘kan? Lanjutkan membaca “Manipulasi Hati: Aku heran, boleh ‘kan?”

Misteri “Bahasa”

Heilow, assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh…

PicsArt_1432477162933

Di hari libur menjelang sibuk (#finalexam), aku mau bagi-bagi dikit kegelisahan yang menyeruak di dalam dadaku (#lebay). Hehe.

Baru-baru ini, aku nonton On the Spot yang di Trans 7 itu loh, dan aku tertarik banget sama 7 kejadian menakjubkan selepas tragedi. Ada beberapa orang yang diketahui menjadi jenius setelah mengalami kecelakaan mengerikan. Nah, yang menjadi masalah menarik (menurutku) adalah terhadap mereka yang tiba-tiba mampu berbahasa asing padahal sebelumnya tidak pernah mempelajari bahasa tersebut! Bisa dinonton di sini Lanjutkan membaca “Misteri “Bahasa””

My Teaching Journey: Perkenalkan!

Hey hey.. hello

Assalamu’alaykum warohamtaullah wabarookatuh.

Well, kali ini aku menulis tulisan lepas (lagi). ‘Kali’ ini dan beberapa ‘kali’ ke depan aku ingin menceritakan beberapa pengalaman setelah menjadi guru privat bahasa Inggris bagi seorang anak home schooling. Aku bukan guru, dan nggak pernah menempuh pendidikan keguruan. Jadi, istilah ngajar di “masa kuliah” cukup membuat hatiku kembang kempis (eh?), berbunga-bunga maksudnya. Lanjutkan membaca “My Teaching Journey: Perkenalkan!”

Tirani Masa Lalu

“Past makes who I am now”

Bukankah kita sering mendengar hal demikian. Dengan rasa tegar dan bangga. Ya, bagi orang-orang sukses hal itu adalah sesuatu yang membanggakan sebab masa lalu yang pahit diputar menjadi batu loncatan bagi mereka. Tetapi, di luar sana, di bumi yang dihuni trilyunan manusia ini, masa lalu dan masa kini yang seakan teman telah menjadi musuh pula bagi diri mereka. Mereka, yang kini diliputi kehinaan dan kesakitan, rasa sakit yang begitu dalam. Dan setengah dari mereka ada PADAKU.

Semua tergantung bagaimana kita memandangnya

Benarkah???

Menurutku, semua malah tergantung bagaimana kita memanipulasi hati kita untuk menerima dan membuatnya menjadi sesuatu yang kita inginkan. Pikiran hanyalah senjata, hatilah penggunanya. Senjata akan membunuh siapa, tergantung yang memegangnya. Dalam kasus ini, hati kita. Dan bagaimana cara kita memanipulasi hati kita “memandang” sesuatu adalah sebuah akibat. Akibat dari ilmu yang kita peroleh. Ilmu apapun. Bacaan, Pelajaran, Tontonan, bahkan Pengalaman. Itu bagian dari ilmu. Sayangnya, tiap orang memiliki ilmu yang berbeda.

Lalu??

Ya, jawabannya bukankah telah kutuliskan?

Bahwa memang benar, cara memandang masa lalu membentuk karakter kita hari ini. Karakter yang kita harapkan akan menuntun kepada kesuksesan. TETAPI, ilmulah yang membuat cara pandang. Jadi, kau dan aku harus mencari dan menambah Ilmu. Dan perlu kita ingat, ilmu agama adalah ilmu yang paling bermanfaat dalam segala hal, termasuk hal ini.