farmasi · pendidikan · pharmacy · Tak Berkategori

Mengenal Polymerase Chain Reaction (PCR)

Print
Britannica.com

Coronavirus disease 19 (COVID-19) sedang mewabah, salah satu jenis tes atau uji yang akhirnya naik daun menjadi perbincangan adalah PCR atau polymerase chain reaction. Sebenarnya, jenis uji PCR ini sudah sering dilakukan di tahun sebelumnya seperti pada penderita herpes simplex, dan penyakit lainnya. Untuk lebih jelas, yuk sama-sama belajar tentang PCR ini.

Pengertian PCR

Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah sebuah metode analisis sekuens pendek (short sequence) pada DNA (atau RNA) pada sampel yang hanya memiliki jumlah (kuantitas) DNA atau RNA yang sangat sedikit. PCR digunakan untuk mereproduksi (mengamplifikasi) bagian terpilih dari DNA atau RNA. Lanjutkan membaca “Mengenal Polymerase Chain Reaction (PCR)”

mikrobiologi · pharmacy · Pikir · Tak Berkategori

Bilik “Disinfeksi”, Benarkah?

Assalamu’alaikum..

Belakangan, semenjak virus corona (COVID-19) mewabah dan (sepertinya) pemerintah tidak bisa “memaksa” masyarakat untuk secara total tidak keluar rumah, “bilik disinfeksi” atau disebut disinfection chamber menjadi marak diadakan. Di gedung pemerintahan, halte bus, dan ruang publik lain pun menyediakan bilik disinfeksi ini.

Setelah banyaknya keberadaan bilik yang diharapkan dapat meredam penularan COVID-19, masalah baru mulai muncul: apakah aman menggunakan bilik disinfeksi? Apakah penamaan bilik disinfeksi sudah tepat? Dan apakah sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa bilik disinfeksi ini efektif?

Berdasarkan tanggapan yang ditulis oleh Sekolah Tinggi Farmasi ITB melalui lamannya fa.itb.ac.id, penggunaan desinfektan kurang tepat digunakan kepada manusia karena dapat menimbulkan efek tidak baik bagi kesehatan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini juga telah disebutkan oleh World Health Organization (WHO) di lamannya yang bertajuk “Myth Busters”, semprotan desinfektan berupa alkohol dan klorin tidak disarankan pada manusia karena akan merusak pakaian dan berbahaya pada kulit, paru-paru dan membran mukosa. Bukan hanya bahan kimia, penggunaan sinar ultraviolet pun tidak disarankan karena akan mengiritasi kulit.

Apa itu disinfeksi? Bedanya dengan sterilisasi dan antiseptik

Untuk mengetahui alasan di balik bahayanya bilik disinfeksi, kita harus tahu dulu apa itu disinfeksi? Ada pula yang sampai menyebutkan sterilisasi? Keduanya, disinfeksi dan sterilisasi merupakan proses dekontaminasi, tetapi memiliki perbedaan baik dalam proses maupun hasil.

Disinfeksi adalah proses menghilangkan mikroorganisme yang terdapat pada suatu objek (yang tidak hidup), tapi tidak dengan endospora/sporanya. Sedangkan sterilisasi adalah proses untuk menghilangkan seluruh mikroorganisme pada suatu objek, termasuk endospora/sporanya. Artinya, dalam tingkatan nihil mikroorganisme, sterilisasi berada di puncak karena juga membunuh spora bakteri/mikroba lainnya.

Kenapa makhluk hidup tidak bisa di-disinfeksi atau di-sterilisasi?

Pertama, karena tubuh manusia terdiri dari milyaran mikroba! Mikroorganisme itu tidak selamanya buruk, ada yang disebut flora normal yaitu bakteri/mikroorganisme yang ada pada tubuh manusia dan bersimbiosis mutualisme dengan manusia itu sendiri. Mereka yang biasa kita dengar dengan sebutan “bakteri baik”.

Kedua, proses atau bahan dalam proses disinfeksi dan sterilisasi itu sendiri. Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara: fisik dan kimia. Secara fisik, sterilisasi dilakukan dengan pemanasan pada suhu 160-180 derajat Celsius selama 1-2 jam, pembakaran, atau menggunakan autoclave yaitu alat dengan tekanan uap tinggi, termasuk pula penyinaran dengan sinar UV. Secara kimia, sterilisasi menggunakan bahan seperti halogen (klorin, iodin), alkohol, fenol, gas etilen oksida, formaldehid, dan lainnya yang tentu sangat toksik untuk tubuh makhluk hidup.

Mirip dengan sterilisasi, disinfeksi juga menggunakan bahan kimia yang disebut desinfektan. Desinfektan yang kadarnya tinggi (high-level desinfectant) dapat berfungsi sebagai sterilan/ bahan kimia untuk proses sterilisasi dengan durasi paparan yang sesuai, sedangkan desinfektan kadar rendah (low-level desinfectant) dapat membunuh bakteri vegetatif tapi tidak dengan sporanya. Beberapa desinfektan dapat menjadi sterilan saat durasi paparannya lama (3-12 jam). Artinya, kemampuan bahan desinfektan untuk disinfeksi ditentukan oleh kadar dan durasi paparan dan ini membahayakan bagi makhluk hidup.

Mengingat hal ini, penamaan bilik disinfeksi menjadi kurang tepat. Sebab, penggunaan bahan pada bilik tersebut seharusnya bukanlah desinfektan melainkan antiseptik yang aman untuk makhluk hidup.

Apa itu antiseptik? Antiseptik adalah germisida (bahan yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme patogen) yang dapat digunakan untuk makhluk hidup. Secara umum, antiseptik digunakan untuk makhluk hidup dan bukannya benda mati. Benzalkonium klorida yang diklaim aman untuk makhluk hidup dan digunakan pada bilik di Surabaya misalnya, menjadi tidak tepat disebut desinfektan melainkan antiseptik. Lebih tidak tepat jika dikatakan bilik sterilisasi. Menggunakan kata antisepsis menjadi pilihan yang mungkin dapat dipertimbangkan untuk tidak menghasilkan kebingungan, dengan memperhatikan bahan yang digunakan pad bilik antisepsis tersebut yaitu bahan antiseptik yang aman.

Terlepas dari itu semua, sebaiknya penggunaan bilik yang demikian memang tidak terlalu rutin dan tetap mengoptimalkan physical distancing serta mencuci tangan dengan benar dan rutin. Cara itu akan menjadi lebih efektif untuk menjaga kesehatan.

Inspirasi dan Rujukan:

https://fa.itb.ac.id/tanggapan-terhadap-disinfektan-bilik/

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters

https://www.cdc.gov/infectioncontrol/guidelines/disinfection/introduction.html#

berita · fakta · farmasi · literasi · pharmacy · Tak Berkategori · World

Benarkah Tiazid lebih efektif daripada ACE-Inhibitor sebagai lini pertama (first-line) antihipertensi?

Terjemahan: Artikel asli dari MIMS, ditulis oleh Pearl Toh.

Saat efektivitas obat selalu diperbandingkan antara keempat kelas obat lini pertama anti-hipertensi, mengajukan tiazid bisa jadi lebih baik dari kelas yang paling sering diresepkan yaitu ACE-inhibitor untuk mengurangi akibat kardiovaskular primer, saran real-world evidence dari studi LEGEND-HTN.

Lanjutkan membaca “Benarkah Tiazid lebih efektif daripada ACE-Inhibitor sebagai lini pertama (first-line) antihipertensi?”

fakta · farmasi · kimia · obat · pharmacy · Tak Berkategori · translate

Kapan Kamu Tahu Kita Bisa Mendeteksi Pengguna Kokain dengan Sidik Jari?

Perkembangan teknologi memang sangat menakjubkan ya, kawan. Dari yang harus manual melakukan semuanya, dengan ilmu sains, manusia bisa membuat pekerjaan lebih mudah menggunakan mesin atau teknologi. Dari yang harus uji coba ke manusia, hewan atau telur, teknologi membuat manusia bisa melakukan uji coba secara in vitro tanpa harus memakan korban makhluk hidup. Dan, teknologi juga membuat proses yang memakan waktu berjam-jam bisa selesai lebih cepat lagi! MasyaAllah 🙂

Lanjutkan membaca “Kapan Kamu Tahu Kita Bisa Mendeteksi Pengguna Kokain dengan Sidik Jari?”

farmasi · mikrobiologi · pendidikan · pharmacy · Tak Berkategori

Elektroforesis Gel: Pengertian dan Prinsip

Apa itu elektroforesis gel?

Elektroforesis adalah sebuah teknik yang biasa digunakan di laboratorium untuk memisahkan campuran DNA, RNA atau protein berdasarkan ukuran molekulnya. Pada elektroforesis gel, molekul yang ingin dipisahkan didorong oleh medan elektrik melalui sebuah gel yang berpori kecil. Lanjutkan membaca “Elektroforesis Gel: Pengertian dan Prinsip”

biologi · farmasi · mikrobiologi · pendidikan · pharmacy · Tak Berkategori

Resistensi Antibiotik: Sumber, Penyebab, Mekanisme, dan Pencegahan (Bag. I)

Artikel ini merupakan terjemahan dari situs: http://microbeonline.com/antibiotic-resistance-origin-causes-mechanism/

Antibiotik merupakan agen terapetik utama yang digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi bakteri. Namun hari ini, semakin banyak antibiotik yang menjadi kurang efektif. Hal ini disebabkan oleh resistensi antibiotik yang berkembang di dalam tubuh bakteri sebagai akibat dari penggunaan dan penyalahgunaan antibiotik. Resistensi antibiotik merupakan kemampuan yang didapatkan oleh bakteri untuk menolak efek antibiotik, yang pada kondisi normal bakteri tersebut rentan. Ini terjadi ketika bakteri berubah dalam sebuah mekanisme yang menyebabkan berkurangnya efikasi antibiotik tersebut. Dengan demikian, bakteri dapat terus berkembang biak walau berada pada kadar terapetik antibiotik. Lanjutkan membaca “Resistensi Antibiotik: Sumber, Penyebab, Mekanisme, dan Pencegahan (Bag. I)”

biologi · buku · farmasi · mikrobiologi · pendidikan · pharmacy · Tak Berkategori

Apa Itu Mikroorganisme?

Sumber: Microbiology demistified, Penerbit: The McGraw Hill

Mikroorganisme adalah subjek dari mikrobiologi yang merupakan cabang sains yang mempelajari mikroorganisme. Suatu mikroorganisme dapat berupa satu sel atau kumpulan sel yang dapat dilihat hanya dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme disusun menjadi enam cabang studi: bakteriologi, virology, mikologi, fikologi, protozoologi, dan parasitologi.

Lanjutkan membaca “Apa Itu Mikroorganisme?”

biologi · farmasi · mikrobiologi · pendidikan · pharmacy · Tak Berkategori · translate

Jenis Mikroorganisme

BAB I Dunia Mikrobiologi

Buku: Microbiology Demistified

Penerbit: The McGraw Hill Comp.

Mikroorganisme Tak Bersahabat

Sebuah infeksi disebabkan oleh masuknya mikroorganisme penyebab penyakit yang dikenal sebagai mikroorganisme patogen. Beberapa mikroorganisme patogen menginfeksi manusia, tetapi tidak hewan atau tumbuhan. Beberapa juga yang menginfeksi hewan dan tumbuhan, menginfeksi pula manusia. Lanjutkan membaca “Jenis Mikroorganisme”