Me · Parenting · pendidikan · Tak Berkategori

Tetaplah Menjadi Ibu yang Penuh Cita

Assalamu’alaikum bu.. apa kabarmu hari ini? Di tengah aktivitas menemani si kecil dengan seabrek kreativitasnya. Masihkah cita-cita dahulu terjaga?

Cita sebelum buah hati lahir ke dunia. Cita yang begitu indah terangkai dalam benak. Sayangnya, cita itu kadang terbentur saat si kecil lahir. Mengabur lalu terkubur di dalam segudang kesibukan menyiapkan tetek bengek keluarga. Lanjutkan membaca “Tetaplah Menjadi Ibu yang Penuh Cita”

Me · Pikir · Tak Berkategori

30hbc2002: When you realized you’re…

Awalnya, kamu pikir kamu adalah orang yang cukup bersyukur. Lalu saat orang tua atau suamimu datang membawa makanan setelah pulang dari kantor, makanannya tak cocok dengan seleramu. Mukamu mengkerut dan keluhan mulai mengalir. Mungkin tak banyak, hanya menghela napas berat seolah mendapat masalah besar.

Kemudian kamu sadar, ah… ternyata syukur itu berat dan kamu belumlah cukup bersyukur. Lanjutkan membaca “30hbc2002: When you realized you’re…”

Hati · Me · Tak Berkategori

30hbc2001: 2020

Tulisan ini adalah tulisan saya di akun instagram dalam rangka mengikuti 30 hari bercerita tahun 2020.

2020, angka pada tahun ini cukup unik. Dan memasuki awalnya pun cukup membuat panik. Banjir mengepung ibu kota, dan sangat tak terduga. Banyak alasan, spekulasi, dan selainnya tentang banjir yang menghiasi beranda di awal tahun ini.

2020, bagaimanapun, kita berharap tahun ini bisa menjadi lebih baik. Berharap capaian lebih maksimal dan harapan terealisasi.

Bagaimana pun kita memulai, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki. Selama kita masih hidup, Allah masih memberi kita kesempatan. Untuk berbuat kebaikan dan memperbaiki diri. Untuk kembali kepada-Nya. #30haribercerita

Hati · Me · Tak Berkategori

Sebuah Renungan: Saat Kau Hampir Menyerah

Jika masa itu datang, setelah upaya yang begitu melelahkan dan rasanya do’a tak kunjung terkabulkan..

Bersabarlah sebentar lagi dan berprasangka baiklah kepada Zat yang Maha Pemurah

Mungkin usahamu membutuhkan kesabaran lebih, mungkin do’amu butuh sedikit lebih lama lagi

Karena yakinlah, selama kau tidak berhenti, selama kau terus berlari.. hasil dari setiap jeri payah akan terbayarkan

Sebab Allah selalu sesuai persangkaan hamba-Nya Lanjutkan membaca “Sebuah Renungan: Saat Kau Hampir Menyerah”

Hati · Kisah Inspiratif · Me · Pikir · Tak Berkategori

Dear You, yang Sedang Ketakutan

Seringkali kita takut karena kita tidak tahu apa yang kita takutkan. Hanya sekadar merasa takut saja. Mudah mengatakan “untuk menjadi tidak takut maka beranilah!”, tapi tanpa mengetahui sumber ketakutan kita, motto ini hanya akan berlaku di momen itu saja dan selanjutnya menimbulkan depresi yang lebih dalam. Kenapa? Karena kita akan menyalahkan diri atas ketakutan yang kita alami.

Lanjutkan membaca “Dear You, yang Sedang Ketakutan”

Me

2/10/2015: Mimpi

CAM00296
My first sketchbook

 Pada akhirnya aku membeli sketchbook. Yay! Sketchbook pertamaku. Hm, hobi ini mungkin sangatlah tak sesuai karirku. Tapi, aku sangat menginginkannya. Seakan-akan hatiku memanggil sejak lama. Ya, aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatku bersemangat. Aku ingin mensyukuri kehidupanku. Bukti aku masih hidup adalah tanda Allah masih memberiku kesempatan memperbaiki diriku.

Makanya, aku ingin beribadah sebanyak-banyaknya dan semampu yang aku bisa. Aku ingin menggambar. Menggambarkan perasaanku agar orang-orang melihatnya. Mungkin nanti. Nanti sekali. ^^~. Fighting!

Me · pendidikan · Pikir · World

Pelajar-Pengajar di Atas Ironi

Dunia yang kita jalani ini begitu lucu dan menggemaskan, bukan begitu? Berjalan dengan ironi yang nanti lama baru kita sadari. Seperti menginjak runtutan lubang berulang-ulang tapi lama baru sadar kalau kita tengah menginjak lubang.

Sejujurnya, menjadi pelajar dan pengajar di saat yang bersamaan membuka mataku tentang kesalahan-kesalahan yang kulakukan selama masa akademik berlangsung. Kesalahan itu sebenarnya 70% tidak kusengaja, dan 30%nya semi sengaja. Ya, Anda bisa saja berpikir apapun maksud semi-sengaja.

Saat menjadi pelaku dan mendapat perlakuan negatif, kebanyakan dari kita akan me-masa-bodo-i kata-kata menusuk walaupun kita akan mengingatnya. Lalu setelah itu, kita akan menjadi enggan dan segan terhadap mereka. Masalahnya, menurut kita, itulah titik puncak kemampuan kita yang mereka tak pahami.

Dan memang benar, menjadi pengajar dan mendapatkan anak didik bermasalah tanpa mengetahui penyebabnya juga akan memberi kesan buruk di hati pengajar. Pengajar juga adalah manusia yang tidak bisa mengetahui segala-galanya masalah atau cara pikir anak didiknya. Dan di sinilah kesalutanku kutujukan, pada mereka pengajar yang sangat gigih dengan anak didiknya.

Pengajar bukanlah hakim yang bebas memutuskan bahwa anak didik A baik dan B buruk.
Pengajar bukanlah juri yang hanya menilai hasil lalu menentukan pemenang.

Pengajar adalah mereka yang mengajar. Mengajar anak didik mereka tapi tidak memaksakan kehendak mereka. Itu karena kita pernah menjadi seorang pelajar yang juga sering bandel atau kadang jatuh di tempat yang salah. Tapi hal itu bukanlah untuk membenarkan perilaku anak didik yang sedang “galau terhadap jati diri”, melainkan mengarahkan pandangannya dan bersabar menunjukkan jalannya.

Karena pengajar adalah manusia yang juga melakukan kesalahan, maka sepatutnya pula mereka menyadari kebutuhan untuk terus dan terus membenahi diri. Bukan hanya dari sisi akademik pengajar, melainkan juga mentalitasnya.

Ya, saya pun masih pengajar amatir.Tapi, setidaknya itulah yang saya pikirkan.