Tak Berkategori

Interview Singkat IRT di Tengah Covid-19

#CeritakuDariRumah

T: Keseharian apa yang berbeda bagi seorang ibu rumah tangga sebelum dan sesudah masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)?

J: Kalau boleh jujur, sebenarnya tidak ada perbedaan rutinitas yang berarti. Kecuali, menjadi lebih sering melihat dan menanyakan kondisi orang sekitar, lebih up to date dengan berita, serta lebih mudah tergugah saat melihat ajakan untuk berdonasi.

T: Kondisi apa yang Anda maksud sering Anda lihat atau tanyakan?

J: Misalnya sering lihat status whatsapp teman-teman, kalau ada yang jualan bisa diusahakan untuk dibeli- kalau memang bisa dikonsumsi. Atau misalnya tanya-tanya Pak RT atau tetangga kalau ada yang sedang sulit. Kadang, kita bisa menyedekahkan beras berlebih kita ke teman-teman atau tetangga yang butuh. Selain itu juga sering lihat-lihat postingan kemanusiaan begitu.

T: Apakah Anda sendiri tidak terdampak?

J: Alhamdulillah saat ini kebutuhan primer masih aman.

T: Apa maksud Anda dengan “lebih tergugah untuk berdonasi”?

J: Ya, biasanya kita berdonasi di saat lapang, ‘kan. Saat ini kita ‘tuh seperti ditantang untuk berdonasi di saat sulit. Tentu lebih tergugah, karena kita tahu bagaimana rasanya kesulitan, dan turut merasakan betapa mengharukannya saat ada bantuan yang datang pas kita butuh.

T: Apa pesan Anda kepada masyarakat agar bisa melalui masa ujian di tengah wabah ini?

J: Pesan saya, mungkin ini adalah saatnya kita muhasabah dan lebih peka. Tidak egois terhadap keinginan kita. Karena siapa pun merasakan dampak PSBB ini. Bagi teman-teman yang masih bisa makan, selayaknya untuk banyak bersyukur. Karena masih ada saudara kita yang lain, yang bahkan untuk beras pun harus pinjam. Ya Allah..

Kebaikan itu tidak harus besar, berapa rupiah pun pasti akan sangat membantu jika kita berdonasi bersama-sama. Seperti di #dompetdhuafa .

Dagangan teman kita yang bisa kita beli, belilah. Mungkin itu cara dia supaya tidak meminta-minta.

Bagi yang menjadi pihak terdampak, ayo perbanyak do’a. Mungkin manusia tidak mendengar keluh kesah kita, tapi Allah yang di langit Maha Mendengar bahkan selirih apa pun bisikan kita. Mungkin tiba-tiba saja ada bantuan dari para dermawan mengetuk pintu rumah kita.

****

Demikianlah, Pembaca sekalian, diskusi singkat saya dengan diri saya sendiri. Semoga bisa bermanfaat dan mengetuk hati kita untuk tetap berbuat kebaikan walau berada di rumah.

Banyak kebaikan sederhana yang sebenarnya bisa kita lakukan di rumah. PSBB memang berarti membatasi ruang gerak kita di ranah publik, tetapi tidak berarti membatasi kepedulian sosial kita.

Tetangga yang jauh atau dekat, teman kajian kita, keluarga yang nun jauh di sana, beberapa di antara mereka mungkin merasakan kesulitan yang jauh lebih berat di masa PSBB ini. Maka tetaplah menebar kepedulian, menebar ajakan untuk menyedekahkan harta, dan untaian ajakan kebaikan lainnya.

Jempol kita pun bisa menjadi sumber kebaikan. Misalnya, menulis atau membagikan ajakan-ajakan donasi kepada mereka yang membutuhkan.

Mungkin saja, kawan, saat kita berdonasi atau bersedekah kepada mereka yang butuh di sekitar kita, Allah subhanahu wata’ala akan membantu keluarga kita yang terpisah ribuan kilometer melalui lembaga kemanusiaan.

Jadi, ayo terus menebar kebaikan.

Salam hangat,

Ummu Arqam

#kebaikan #ramadan #covid19

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition “Ceritaku Dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s