Muqaddimah: Sehat dalam Islam

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌوَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّخَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS al-Isrâ’/17: 82)

Sesungguhnya kesehatan menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan dalam Islam. Islam sebagai agama untuk seluruh alam, menunjukkan berbagai petunjuk kepada manusia agar memperhatikan makanannya yang menjadi sumber nutrisi penunjang kesehatannya sebagaimana firman Allah yang artinya:

“dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”  (Q.S Al-Maidah: 88)

Makanan tak cukup hanya halal saja. Seorang muslim hendaknya juga mmperhatikan apakah makanan tersebut baik untuk dirinya, baik untuk kesehatannya sebagai bentuk kesempurnaan aplikasi perintah Allah di atas. Dan memang benar bahwa sumber awal penyakit sebagian besar dimulai dari makanannya sehingga seorang tokoh ilmuwan Barat, Hippocrates mengemukakan:

Let food be thy medicine and medicine be thy food (Jadikan makananmu adalah obat dan obat adalah makananmu).

Selain makanan dan asupan yang halal dan baik, perhatian Islam terhadap kesehatan ini juga ditunjukkan dengan do’a yang senantiasa dipanjatkan Rasulullah tiap pagi dan petang:

“Ya, Allah, berilah kesehatan pada badanku, ya Allah, berilah kesehatan pada pendengaranku, ya Allah, berilah kesehatan pada penglihatanku,  Tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau. Ya, Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Dan aku berlindung kepadamu dari siksa kubur. Tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau”(H.R Abu Dawud, An-Nasa-i, Ibnu Sunni dan Bukhari)

Sebab sehat juga merupakan salah satu nikmat pemberian Allah subhanahu wata’ala.

Al-Qur’an sebagai obat bukan hanya obat hati melainkan juga obat jasad sebagaimana kisah yang diriwayatkan berikut ini:

Dari Abu Sa’id Al-Khudry:

Ada rombongan beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika mereka sampai di salah satu perkampungan Arab, penduduk setempat mereka meminta agar bersedia menerima mereka sebagai tamu penduduk tersebut, namun penduduk menolak. Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang lalu diusahakan segala sesuatu untuk menyembuhkannya namun belum berhasil. Lalu diantara mereka ada yang berkata: “Coba kalian temui rombongan itu semoga ada diantara mereka yang memiliki sesuatu. Lalu mereka mendatangi rombongan dan berkata: “Wahai rombongan, sesunguhnya kepala suku kami telah digigit binatang dan kami telah mengusahakan pengobatannya namun belum berhasil, apakah ada di antara kalian yang dapat menyembuhkannya?” Maka berkatalah seorang dari rombongan itu: “Ya, demi Allah aku akan mengobati, namun demi Allah kemarin kami meminta untuk menjadi tamu kalian, namun kalian tidak berkenan. Maka aku tidak akan menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah. Akhirnya mereka sepakat dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca Alhamdulillâh rabbil ‘âlamîn (QS al-Fâtihah) seakan penyakit lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak membawa obat apapun. Dia berkata: “Maka mereka membayar upah yang telah mereka sepakati kepadanya. Seorang dari mereka berkata: “Bagilah kambing-kambing itu!” Maka orang yang mengobati berkata: “Jangan kalain bagikan hingga kita temui Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam., lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada Beliau (Nabi) shallallahu ‘alayhi wa sallam., dan kita tunggu apa yang akan Beliau perintahkan kepada kita”. Akhirnya rombongan itu pun menghadap Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam., lalu mereka ceritakan peristiwa tersebut. Beliau pun berkata: “Kamu tahu dari mana kalau al-Fâtihah itu bisa sebagai ruqyah (obat)?” Kemudian Beliau melanjutkan: “Kalian telah melakukan perbuatan yang benar, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masukkanlah aku dalam sebagai orang yangmenerima upah tersebut”. Maka Rasulullah s.a.w. pun tertawa.” (HR Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudriy, Shahîh al-Bukhâriy, III/121, hadits no. 2276)

Dari kisah di atas telah jelaslah bahwa Al-fatihah yang merupakan ummul qur’an dapat digunakan sebagai obat bagi jasad. Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الدَّوَاءِالْقُرْآنُ

“Sebaik-baik obat adalah al-Qur`an.” (HR Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib, Sunan ibn Mâjah, IV/538, hadits no. 3501)

Akhir kata, Islam pun telah menyebutkan dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:

“Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah ‘azza wa jalla.” (H.R Muslim no.5705)

Allahul musta’an

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s