Antibiotik- Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan (Nancy Khardori, MD, PhD~ Terjemahan)

(Terjemahan)

Terapi obat untuk penyakit selain yang disebabkan oleh mikroba meliputi pengobatan inangnya. Dalam terapi Penyakit Infeksi, tujuannya ialah untuk menghindarkan inang dari patogen. Karenanya, terapi obat ditujukan untuk patogennya. Karena agen hidup kedua terlibat dalam segitiga ini, terapi obat dipengaruhi oleh sifat alami patogen, spesifitas jaringan, ddan paling penting, perubahan yang terjadi baginya untuk selamat. sejarah terapi antimikroba telah didemonstrasikan dengan jelas bahwa obat yang digunakan untuk mengobati infeksi juga bertanggungjawab untuk membuatnya lebih sulit diobati di masa depan. Cara satu-satunya ialah dengan menjaga penggunaan antimikroba tersebut dengan benar dan tepat.

Awal yang Lambat Tapi Gemilang

“Manusia Es”, yang tubuhnya dimumikan diambil dari bawah gletser yang surut di bagian Utara Italia pada tahun 1991, telah hidup sekitar 5310 tahun lalu. Jasad yang dengan cepat dikeringkan menggunakan angin alpine kemudian dibekukan dan ditutup dalam es perennial- menjelaskkan tahap pengawetan yang luar biasa. Studi tentang mumi ini telah menghasilkan penemuan penting dalam bidang arkeologi dan kesehatan. Di antaranya yaitu keberadaan telur Trichuris trichura  pada rektum dan kemungkinan penggunaan fungi, Piptoporus betulinus untuk pengobatan parasit usus ini. Minyak beracun dalam fungi merupakan obat yang mungkin hanya ada di Eropa hingga pengenalan minyak kenopoda yang lebih toksik berasal dari Amerika.

Efikasi minyak kenopoda ditingkatkan oleh laksatif kuat, menghasilkan pembersihan cacing yang mati dan sekarat serta telurnya dari sistem pencernaan. Piptoporus betulinus mengandung minyak yang toksik melawan metazoan dan telah diketahui bersifat antimikroba melawan mycobacteria. Fungi ini juga mengandung resin toksik dan asam agarat, yang merupakan laksatif yang sangat kuat.

Selama lebih dari 5 milenium, manusia telah menghadapi penyakitnya dengan kreatifitas yang luar biasa. Sebagai contoh, pada tahun 2000 SM, dokter Assyrian dan Babilonia menggunakan salep yang terbuat dari empedu kodok dan susu asam untuk mengobati infeksi mata, tetapi efeknya baru tampak hanya setelah pasien meneguk bir dan irisan bawang merah.

Nanti pada pertengahan abad ke-19, Louis Pasteur mengamati bahwa beberapa organisme mikro menghancurkan yang lainnya. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai “antibiosis” atau “melawan kehidupan”. Pencarian senyawa kimia antimikroba mengungkapkan bahwa antiseptik terlalu toksik untuk apapun kecuali pemakaian luar pada luka. Bakteriologi Jerman, Paul Ehrlich secara sistematis menguji senyawa kimia, mencari “magic-bullet” (peluru-ajaib) yang dapat dikonsumsi secara internal, tapi kemudian berakhir dengan pengobatan sifilis berdasarkan arsenik-resiko-tinggi.

Alexander Fleming dari London kemudian mencari senyawa antibakteri dari sekret manusia. Penemuan aktivitas antibakteri dari enzim lisozim dibuat karena ketidaksengajaan bersin pada cawan petri. Fleming mengamati bahwa ketika bakteri yang kemudian terbentuk pada plat, tidak ada yang tumbuh di titik yang terdapat mukus. Uji lebih jauh menunjukkan bahwa lisozim bekerja melawan organisme yang tidak berbahaya. Pada 1928, saat kunjungan ke laboratorium Fleming di Rumah Sakit St.Mary di London. Beliau meninggalkan plat kultur Staphylococci tidak tertutup di lab selama liburan. Saat kembali, beliau menyadari jamur pada cawan petri bersama dengan bagian bening antara Staphylococci dan jamur biru-hijau yang muncul. Itu adalah contoh klasik apa yang Pasteur sebut sebagai keberuntungan menampung pikiran dengan keinginan.

Fleming mengidentifikasi jamur tersebut sebagai Penicillium notatum, filtrat kultur yang mampu membunuh bakteri. Beliau menamakan senyawanya sebagai filtrat penisilin. Karena kekurangan sumber keuangan, ambisi Fleming yang sederhana ini membutuhkan 12 tahun bagi penisilin untuk bisa tampil sebagai pengembangan kesehatan terhebat pada abad ke-20. Tetapi masa emas obat anti-infeksi baru dimulai pada tahun 1934. Gerhard Domagk, farmakologis Jerman, menemukan penggunaan pewarna pada kain berwarna mengobati infeksi streptococcal pada tikus. Anak perempuannya yang sekarat berhasil selamat dari infeksi streptococcal setelah diinjeksikan dengan pewarna tersebut. Daniel Bovery, ilmuwan kelahiran Swiss, mengidentifikasi senyawa aktif ini sebagai sulfanilamida. Domagk selanjutnya dianugerahi Nobel dalam bidang Obat-obatan pada tahun 1939.

Medical Clinics of North America: 1049-1050

medical.theclinics.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s