Praktikum Farmakologi-Toksikologi SSO

Ini adalah hasil dan pembahasan waktu saya sedang melakukan praktikum Farmakologi dan Toksikologi tentang Sistem Saraf Otonom. Hanya hasil dan pembahasan sih, tapi semoga bermanfaat. ūüėÄ

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Pada percobaan ini dilakukan pengamatan terhadap obat-obat yang mempengaruhi sistem saraf otonom pada hewan coba mencit (Mus musculus) untuk melihat perbandingan yang diberikan oleh golongan obat yang menghambat atau merangsang kerja sistem saraf simpatis dan saraf parasimpatis yang merupakan dua sistem saraf yang bekerja di bawah sistem saraf otonom. Menurut Katzung (2002), sistem saraf otonom (independen) dalam melakukan efek atau kerjanya tidak dipengaruhi oleh kesadaran, sistem saraf ini secara utama berhubungan dengan fungsi visceral seperti curah jantung (Cardiac output), aliran darah ke berbagai organ, digesti, yang semuanya sangat penting bagi kehidupan. Dalam melakukan koneksi atau hantaran impuls, antara neuron yang satu dan neuron yang lain atau antar neuron yang satu dan organ/jaringan efektor berinteraksi menggunakan neurotransmitter. Neurotransmitter praganglion dan pascaganglion untuk saraf parasimpatis sama-sama Asetilkolin (Ach), sedangkan untuk saraf simpatis, sebagian besar neurotransmitter praganglionnya adalah asetilkolin (Ach) dan pascaganglionnya adalah Norepinefrin (NE) atau Noradrenalin (NA). Menurut AJ Azzarro (2004), Efek yang ditimbulkan oleh sistem saraf simpatis jika diaktifkan oleh kemarahan, stress, atau keadaan darurat yaitu percepatan denyut jantung dan peningkatan daya kontraktilitas otot jantung, peningkatan aliran darah (vasodilatasi) melalui otot skeletal dan penurunan aliran darah (vasokonstriksi) melalui kulit dan organ viseral, aktivitas saluran cerna menurun, sfingter intestinal berkontraksi, pupil dilatasi (midriasis). Sedangkan efek yang ditimbulkan oleh sistem saraf parasimpatis yang perangsangannya pada kondisi stress minimal yaitu, aktivitas saluran cerna meningkat, konstriksi pupil, akomodasi pendekatan dekat untuk membaca.

Ada 5 Golongan obat yang mempengaruhi sistem saraf otonom yaitu Parasimpatolitik,  Parasimpatomimetik, Simpatomimetik, dan Simpatolitik, serta ada pula obat yang mempengaruhi ganglion dalam golongan obat sistem saraf otonom namun tidak dimasukkan dalam uji coba praktik. Obat yang digunakan dalam percobaan ini adalah Pilokarpin sebagai parasimpatomimetik, Atropin sebagai parasimpatolitik, Efedrin sebagai simpatomimetik, dan Propanolol sebagai simpatolitik, serta  NaCMC dan API digunakan sebagai kontrol untuk menunjukkan perbedaan pada mencit yang normal dan yang diberi perlakuan. NaCMC dan API diberikan sebagai kontrol sebab tidak memiliki efek yang berarti atau tidak memiliki zat aktif obat sehingga tidak akan mempengaruhi efek tetapi tetap diberikan sebagai kontrol zat asing yang masuk ke dalam tubuh terhadap waktu.

Sebelum diberikan perlakuan, mencit terlebih dahulu dipuasakan selama kurang lebih 6 jam agar makanan tidak menjadi faktor pengganggu dalam absorbsi obat yang akan diberikan. Hal ini juga bertujuan untuk mempercepat timbulnya efek obat terhadap hewan coba. Perlakuan pemberian obat tidak disertai perlakuan tambahan berupa anestesi sehingga dapat diketahui bahwa saraf yang bekerja pada saat itu adalah saraf simpatis. Obat diberikan dengan rute intraperitoneal (i.p) sehingga obat langsung memasuki sistemik darah dan tidak melalui first pass effect sehingga efek obat juga dapat bekerja maksimal tanpa adanya degradasi tahap pertama di hati. Obat diberikan berdasarkan bobot mencit yang telah ditimbang yang variasinya sekitar 20 gram.

Setelah menginjeksikan obat ke tubuh mencit, efek yang diamati yaitu grooming, dieresis, dan tremor. Pada data grooming (Tabel 1), tampak grooming mencit hampir sama pada tiap kelompok yaitu tinggi  pada menit-menit awal kemudian menunjukkan penurunan aktivitas setelah menit-menit selanjutnya kecuali pada pilokarpin yang menunjukkan peningkatan di menit-menit awal ke pertengahan baru kemudian menurun (Grafik 1).


Perlakuan N 0-15 15-30 30-45 45-60
Atropin 5 + +
Propanolol 5 +++ ++ ++ +
Pilokarpin 5 ++ ++++ ++ ++
Epinefrin 5 ++ ++ + +
NaCMC/API 5 ++ +

Tabel 1.Ket: N= jumlah mencit tiap kelompok, – : tidak ada, +: sedikit, ++: sedang, +++: cukup banyak, ++++: banyak sekali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafik 1. Grafik yang menunjukkan grooming mencit pada masing-masing rentang waktu.

Data pada obat Atropin dan Pilokarpin memang menunjukkan perbedaan aktivitas yang seharusnya, namun untukobat yang berhubungan dengan saraf simpatis, obat tidak menunjukkan perbedaan aktivitas terhadap grooming. Namun hal ini jika kembali dibandingkan dengan mencit yang menjadi kontrol, Atropin yang diberikan seakan tidak menunjukkan efek yang lebih dari normal.Pilokarpin, Epinefrin dan Propanolol yang menunjukkan efek yang lebih daripada kontrol. Jika mengarah pada pustaka, grooming merupakan efek yang ditimbulkan akibat adanya rangsangan saraf simpatis atau adanya pacuan hormone adrenalin yang menunjukkan bahwa mencit mengalami stress, anxietas, dan depresi. Dengan demikian, rangsangan dari obat yang memicu sistem saraf simpatis yang seharusnya memberikan efek yang lebih dari yang lain, begitupula untuk obat yang menghambat pacuan sistem saraf simpatis seharusnya menunjukkan efek yang lebih dibandingkan efek obat yang bekerja pada saraf simpatis sebab jika efek saraf parasimpatis dihambat maka saraf simpatis yang menjadi dominan. Ini diperkuat pula oleh data anova yang dimasukkan (tabel 2).

ANOVA
Source of Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 32.36267 4 8.090667 9.601266 0.003807 3.837853
Columns 18.352 2 9.176 10.88924 0.005209 4.45897
Error 6.741333 8 0.842667
Total 57.456 14

Pada data dieresis(tabel 3), data tiap kelompok juga menunjukkan adanya kemiripan, yaitu hampir semua obat menunjukkan tidak adanya dieresis atau hanya sekali dalam rentang waktu 0-60 menit kecuali pilokarpin. Hanya pilokarpin yang menunjukkan adanya perangsangan saluran perkemihan dalam melakukan dieresis(grafik 2). Secara teori, memang seharusnya obat golongan parasimpatomimetik seperti pilokarpin menunjukkan aktivitas dieresis yang tinggi karena efek parasimpatis meningkatkan kerja saluran perkemihan. Namun seharusnya, obat yang menghambat saraf simpatis juga menunjukkan adanya dieresis yang lebih sebab saraf simpatis yang menghambat saluran perkemihan berkurang sehingga saraf simpatis yang dominan.

Perlakuan N 0-15 15-30 30-45 45-60
Atropin 5
Propanolol 5 +
Pilokarpin 5 ++ + + +
Epinefrin 5 +
NaCMC/API 5

Tabel 3.Ket: N= jumlah mencit tiap kelompok, – : tidak ada, +: sedikit, ++: sedang, +++: cukup banyak, ++++: banyak sekali

Grafik 2. Grafik yang menunjukkan perbedaan dieresis tiap kelompok terhadap obat yang diberikan

Source of Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 0.949333 4 0.237333 6.033898 0.015379 3.837853
Columns 0.005333 2 0.002667 0.067797 0.934982 4.45897
Error 0.314667 8 0.039333
Total 1.269333 14

Tabel 4. Tabel Anova yang menunjukkan perbedaan data dieresis

Pada data tremor (tabel 5), hanya atropine yang menunjukkan tidak adanya aktivitas tremor. Pilokarpin menunjukkan adanya aktivitas tremor yang paling tinggi dibandingkan epinefrin dan propanolol, dan propanolol menunjukkan aktivitas tremor yang lebih tinggi dibandingkan epinefrin (grafik 3). Secara teori, tremor disebabkan oleh kekurangan dopamine di dalam sawar darah otak yang dihasilkan oleh substansia nigra. Pilokarpin merupakan obat yang menembus sawar darah otak sehingga kemungkinan ini akan dapat mempengaruhi kekurangan dopamine akibat rangsangan saraf parasimpatis yang lebih pada sistem, sedangkan untuk propanolol yang merupakan ő≤-blocker tentu akan menghambat sintesis norepinefrin yang tahap sintesisnya melalui dopamine.

Perlakuan N 0-15 15-30 30-45 45-60
Atropin 5 +
Propanolol 5 +++ ++ + +
Pilokarpin 5 ++ ++++ ++ +++
Epinefrin 5 ++ ++ + +
NaCMC/API 5

Tabel 5.Ket: N= jumlah mencit tiap kelompok, – : tidak ada, +: sedikit, ++: sedang, +++: cukup banyak, ++++: banyak sekali

Grafik 3. Grafik yang menunjukkan perbedaan tremor terhadap  pemberian obat.

Source of Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 35.24267 4 8.810667 11.70593 0.002002 3.837853
Columns 6.352 2 3.176 4.219663 0.056082 4.45897
Error 6.021333 8 0.752667
Total 47.616 14

Tabel 6. Data Anova tremor

Dengan demikian, ada beberapa data yang tidak sesuai dengan teori terutama pada grooming. Kemungkinan faktor kesalahan yang terjadi sehingga data tidak sesuai yaitu: (1) kesalahan personal berupa metode penyuntikan yang kurang tepat atau dosis yang masuk ke dalam tubuh mencit tidak sempurna, (2) kondisi lingkungan yang membuat tingkat stress mencit meningkat sehingga mempengaruhi efek obat yang diakibatkan stress lingkungan tersebut, (3) kesalahan pengamatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s