Tugas Metodologi Penelitian

Ini salah satu essai yang menjadi tugas mata kuliah metodologi penelitian. Tentang metode sampling.

Ada banyak metode pengambilan sampel yang dapat dipilih sesuai dengan pendekatan penelitian yang dilakukan. Berdasarkan Sugiyono (2011: 118-127), teori sampel dan sampling terbagi menjadi 2 secara umum, yaitu metode probabilitas (probability sampling) dan non-probabilitas (non-probability sampling). Teori berdasarkan teknik sampling probabilitas mensyaratkaan bahwa setiap anggota populasinya memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel dan terbagi lagi menjadi sampel acak sederhana (simple random sampling), simple acak stratifikasi (stratified random sampling), sampel acak kelompok (cluster random sampling), sampling acak sistematik (systematic random sampling), dan sampling bertahap (multistage sampling). Probability sampling juga memungkinkan peneliti untuk membuat pernyataan secara statistik dari sampel. Teknik sampling yang kedua yaitu Non-probability tidak mensyaratkan bahwa anggota populasi memiliki peluang yang sama sebagai sampel karena sampel dipilih berdasarkan pertimbangan peneliti. Jenis sampling yang termasuk kategori non-probability adalah quota sampling, accidental sampling, purposive sampling, dan snowball sampling. Non-probability sampling akan menyulitkan peneliti membuat pernyataan statistic tentang sampel. Pada paper ini, metode sampling yang akan saya bahas adalah sampel acak stratifikasi (Stratified Random Sampling).

Stratified artinya strata atau kedudukan subjek (seseorang) di masyarakat. Jenis sampling ini digunakan peneliti untuk mengetahui beberapa variabel pada populasi yang merupakan hal yang penting untuk mencapai sampel yang representatif (Nursalam, 2008:93). Pada metode ini, populasi akan dibagi-bagi terlebih dahulu menjadi beberapa kelompok yang (relatif) homogeny, kemudian dari masing-masing kelompok yang dinamakan stratum, diambil sampel secara acak. Pembagian populasi menjadi subpopulasi hanya berguna apabila nilai karakteristik dari elemen yang akan diteliti bersifat heterogen atau sangat bervariasi satu sama lain. Pembentukan kelompok yang homogen atau relatif homogen dimaksudkan agar pengambilan sampel secara acak langsung dari masing-masing kelompok akan menjamin representatif kelompok (Supranto, J., 2007:71-72).

Pembagian kelompok ini harus memiliki dasar yaitu nilai karakteristik yang berbeda-beda dan jumlahnya kelompoknya tergantung tingkat variasinya. Secara sederhana gambaran teknik sampling metode ini sebagai berikut: Jika kita merencanakan 100 sampel, peneliti mengelompokkan 25 subjek masing-masing dengan tingkat pendidikan: tidak sekolah dan tidak tamat SD, dasar (SD dan SLTP), SLTA, perguruan tinggi. Atau contoh penjabaran metode ini yaitu populasi dengan N eleman dibagi menjadi k stratum dan sampel sebesar n dialokasikan pada masing-masing stratum sehingga: N1+N2….+Ni…+Nk= N (Ni adalah jumlah elemen stratum –i); n1+n2…+ni..+nk= n (ni adalah jumlah sampel stratum –i). Pada kondisi ini dapat pula didapatkan hasil data tak tertimbang yaitu Ṫ, dimana Ṫ merupakan hasil kali rata-rata sampel dari stratum dan jumlah elemen stratum (Supranto, J., 2007:71-72).

Perlu diketahui pula dalam pembagian strata ini, harus mencakup 3 pertanyaan yang sangat relevan terkait teknik sampling ini yaitu: Bagaimana membentuk strata, Bagaimana memilih item pada setiap strata, Berapa banyak item yang akan dipilih dalam setiap strata atau bagaimana mengalokasikan besar sampel pada setiap strata. Untuk pertanyaan terakhir, pemilihan jumlah item pada setiap strata berdasarkan rumus jumlah item pada setiap strata dibagi jumlah populasi kemudian dikalikan dengan jumlah sampel yang diinginkan (Swarjana I.K,2012:101). Ada 4 faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan jumlah besarnya sampel yang akan diambil, yaitu derajat keseragaman populasi; presisi yang dikehendaki oleh peneliti; perencanaan analisis, dan tenaga, biaya, dan waktu.

Kegiatan pengukuran opini publik juga ada yang menggunakan teknik sampling secara stratifikasi, yang diistilahkan sebagai “panel”. Sebenarnya istilah panel ini merupakan gambaran metode penelitian dengan pendekatan survey masyarakat secara longitudinal tetapi teknik samplingnya berbasis stratifikasi. Salah satu contoh adalah survey pemirsa televise (rating) dari Nielsen Media Research yang pertama kali menarik sampel sebanyak 4.000 orang dari 9 kota di Indonesia: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Palembang, Manado, dan Yogyakarta. Sampel tersebut representatif dan memiliki karakter yang sama dengan populasi di 9 kota besar tersebut. Sampel yang telah dipilih tersebut kemudian diberikan alat yang bernama peoplemeter. Alat ini dipasang pada remote control TV sampel. Ada pula contoh lain yaitu riset indeks kepercayaan konsumen terhadap Danarkesa Research Institute (DRI) yang melakukan metode interview secara langsung tetapi mengambil sampel berdasarkan stratifikasinya. DRI mengambil 1.700 rumah tangga sebagai sampel dari 6 provinsi dan sampel ditarik setelah stratifikasi berdasarkan umur, jenis kelamin, pendidikan, dan tingkat sosial ekonomi. Grafik ini merupakan contoh survey DRI tentang partai pilihan masyarakat tahun 200-2003 (Eriyanto, 2007 :42-44).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s