Pelajaran Berharga

Assalamu’alaykum warohamatullahi wabarokatuh pembaca.. 😀

Hehe, aku selalu salam dulu di awal karena salam adalah do’a; aku ngedo’akan keselamatan, kerahmatan, dan keberkahan pada diri pembaca sekalian. 😀

pelajaran berharga

Nah, postingan kali ini kembali lagi merupakan hasil renunganku hari ini, hehe. Aku sudah sadar dan sudah paham, mungkin “niat” ini memang telah jauh bergeser dari yang semestinya. Dan aku telah bertekad! Aku telah mempunyai mimpi baru, impian baru, harapan baru, angan baru! Walaupun sebenarnya, impian ini nggak bisa dibilang baru ‘sih. Lebih tepat dibilang: kembali. De ja vu kah? Hehe.

Oh ya, balik ke masalah awal. Yup, ketika bersama ‘Adiyat (motorku), aku tiba-tiba terpikir (yah, itu arahan Allah juga sih :D), “Aku telah menetapkan cita-citaku, impianku yang baru”. Impian itu adalah dengan kembali kepada Robbku dalam amalan-amalanku di dunia ini. Selepas kuliah, aku memutuskan untuk menjadi seorang pekerja rumahan, hehe. Mendapat pekerjaan sebagai pengajar rasanya sudah cukup untukku. Pengajar Al-Qur’an, Pengajar Islam, dan Pengajar privat untuk akademik hehe. Selain itu, aku tetap ingin mengamalkan ilmu Farmasiku dengan membuat sesuatu. Yah, itu jika aku belum menikah dan belum mempunyai anak. :p. Jika aku sudah menikah, menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan utamaku, itu prinsipku.

“Aku telah menetapkan cita-citaku, impianku yang baru”.

Kadang, banyak orang yang memandang sebelah mata pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Mamaku pun merasa bahwa menjadi ibu rumah tangga dan nggak bekerja itu sama dengan mematikan otak, katanya. Aku nggak berpendapat demikian. Bahkan menurutku, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat mulia yang nggak ada duanya!

Bahkan menurutku, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat mulia yang nggak ada duanya!

Bayangkan saja, dari tangannya langsung, ia mencetak generasinya, memberikan kasih sayang yang begitu besar kepada putra/putrinya, memenuhi segala kebutuhan anaknya, mengarahkan dan membimbing anaknya, selalu di sisi anaknya. Jujur, aku pun sebagai seorang anak dan menurutku semua anak pasti meronta akan kasih sayang yang penuh dari orang tua mereka. Makanya, aku berharap sebagai orang tua nantinya, aku ingin memenuhi hak anak-anakku yang begitu banyak. Pekerjaan luar itu sampingan.

Nah, lho, kok malah ngelantur?

Balik ke perkara awal tentang impian yang kuceritakan panjang lebar, memang seperti itulah gambarannya. Dan satu hal terpenting, ilallahhanya untuk Allah semata aku ingin meraih impianku itu. Lalu, aku teringat kala SMA-ku dan tersenyum kecil. Bukankah ini adalah citaku saat itu? Ya, apa yang kutetapkan sebenarnya adalah aku yang dulu. Yang hanya bergantung pada Robbku dan ingin meraih cinta-Nya saja. Yang hanya ingin menyenangkan dan membuat Allah ta’ala ridha. Yang ingin selalu dan selalu hanya menyebarkan kebaikan tanpa pamrih.

Sejenak, dunia telah melenakanku. Dunia telah mengambil fokus perhatianku sehingga aku kehilangan arah dan kelimpungan. Lalu, rasa takut, lelah, sedih kian menghantuiku. Aku hanya memikirkan apa yang Mama sebutkan tentang ‘bagaimana kehidupanku di masa datang’ dan ujian bertubi-tubi berupa sedikit ketakutan, kelaparan, dan kehilangan harta benda telah mengaburkan pandanganku. Tanpa sadar, aku telah melupakan niatku.

Keikhlasan, memang merupakan sebuah hal yang sangat samar. Kadang kita tertipu, merasa telah ikhlas, tetapi ternyata sejentik noda masih melekat pada keikhlasan kita. Sejentik noda yang oleh waktu melumer dan melunturkan keikhlasan kita hampir seluruhnya. Maka benarlah ketika ada ulama yang menghabiskan 40 tahun hidupnya untuk menyadari makna keikhlasan. Ya, dan aku telah merasakan bagaimana dahsyatnya hasil ketika ada ketidak-ikhlasan dalam hati kita.

Aku bahkan belum benar-benar tahu makna keikhlasan yang sebenarnya. Dan olehnya, aku masih butuh banyak belajar. Tentang dunia yang sedang kita jalani dan akan kita tinggalkan. Ikhlas. Sebab hanya hamba Allah yang ikhlas-lah yang takkan mampu setan dan bala tentaranya sesatkan:

Allah berfirman yang artinya, “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahawa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka.” (Al-Hijr : 39-40)

Dan firman Allah ta’ala yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (Ikhlas) di antara mereka.(Shaad : 82-83)

Makanya, ini adalah sebuah pelajaran berharga. Semoga yang membaca juga menemukan berharganya pelajaran dalam hidupnya. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s