My Teaching Journey: Tiap Anak Istimewa

Hey hey hey…

Assalamu’alaykum warhohmatullah wabarokatuh

Semoga tetap sehat wal ‘afiat yah para Pembaca  sekalian.

Biasa dengar ‘kan kalau tiap anak itu istimewa? Eh, apa ada yang belum kepikiran? Ya, tiap anak itu istimewa sebagaimana kita pun orang dewasa memiliki karakter istimewa kita masing-masing. Mau anak tersebut memiliki keterbelakangan khusus, normal dan tidak menunjukkan kecacatan, atau normal secara fisik tapi sering sakit-sakitan. Apapun kondisinya, tanamkan di dalam benak pembaca sekalian Tiap Anak Istimewa.

Ya, itulah hikmah besar yang kupelajari dari keluarga muridku ini. (Belum baca kisah sebelumnya? Buka di sini 1, 2)

Tiap Anak itu Istimewa

Di journey-ku sebelumnya, aku sudah membahas tentang bagaimana home schooling bukanlah pilihan buruk malah menjadi pilihan terbaik untuk kondisi tertentu demi kebaikan si Anak. Tentunya yang perlu digarisbawahi adalah tergantung kondisi anak. Yup, sebelumnya sebenarnya Fathin sudah pernah sekolah tetapi karena kemampuannya yang cepat tanggap dan mudah bosan, dia yang seharusnya kelas 3 SD ingin sekali berada di kelas 4. Alhasil, beberapa hal terjadi dan ibunya memilihkan home schooling sebagai alternatif.

“Supaya bisa lebih dekat dan lebih baik kalau sama saya belajarnya” kata ibunya suatu ketika. Ya, ibu Fathin memang telah mengenyam pendidikan hingga masa kuliah sehingga untuk urusan pelajaran bisa beliau handle. Hanya bahasa Inggris saja katanya yang beliau kurang mampu untuk menghandle dan akulah  yang mengisi kekosongan itu, hehe.

Nah, sifat Fathin ternyata sangat berbeda dengan si kakak, Syahid. Syahid adalah anak yang sangat disiplin, teratur, dan rajin dalam hal pelajaran. Jadinya, si ibu bebannya berkurang dalam mengatur dan mengontrol pendidikan si Anak.

Tetapi, masing-masing memiliki kelebihan. Jika itu adalah kelebihan Syahid, Fathin adalah anak yang sangat perhatian dan senang menolong orang lain.

Ya, bagaimana kita memandang anak-anak kita akan memberikan kesan berbeda pula terhadap mereka. Hal itu pula akan membuat kita bisa menentukan sikap dan perlakuan terhadap mereka.

Oh, ya, aku lupa menyebutkan… ibu mereka bekerja sebagai ibu rumah tangga. Bergelut dan fokus pada profesionalismenya sebagai ibu rumah tangga. Inilah sebenarnya yang membuatku mampu belajar banyak dari anak dan ibunya. Sebab pendidikan yang dinamis dan tanpa tekanan beliau semaikan dalam rumah tangganya.

Hmm… Keren banget deh,

Selanjutnya aku akan membagi My Teaching Journey yang lainnya untuk bisa diambil pelajarannya. Kisah ini belum berakhir..^o^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s