Duka Pertama Kali

This is the first time I feel grief like this, First Time Grief.

Kata orang, semua yang pertama akan sangat berkesan bagi seseorang. Dan yah, ini memang pengalaman yang cukup berkesan dan menyedihkan.

Tanggal 6 Mei 2015, sekitar pukul 16.30, Allah ta’ala akhirnya memanggil kakekku setelah beberapa tahun derita sakit akibat usia yang renta. Jujur saja, rasa dari pengalaman ini adalah yang pertama, rasa dari keluarga langsung pertama yang meninggalkanku secara permanen dari dunia ini. Sebelumnya, aku hanya biasa mendengar kabar kematian, kematian teman dan junior, kematian orang tua teman, dan semisalnya yang tidak berhubungan darah langsung. Walaupun, salah satu om juga sudah ada yang wafat, tapi itu terjadi ketika aku masih sangat kecil sehingga aku tidak tahu persis rasanya. Makanya, kematian kakek menyisakan perasaan khusus bagiku, selain memang aku juga kadang menjaga beliau.

Pengalaman Pertama

Baru kali ini pula aku merasakan dengan jelas pengalaman pertama berinteraksi dengan keluarga yang sedang dalam kondisi kalut. Gesekan-gesekan opini, penekanan pendapat, kesedihan, kemarahan, haru, semuanya seakan bercampur menjadi satu di dalam benak mereka.

Waktu mendengar kabar itu, kondisiku sebenarnya sedang kurang baik. Sejak tanggal 5, kondisi kesehatanku menurun karena kelelahan. Perasaan burnout. Maka dari itu ketika mendengar kabar melalui telepon selular, perasaanku sangat kacau. Entah sedih dan juga rela. Tapi, tanpa sadar air mata sedikit-sedikit mengiringi perjalanan pulangku. Tapi, pikiranku benar-benar kacau.

Tiba di rumah, karena kondisi yang memang sudah kurang baik, aku pun tertidur begitu saja. Menjelang isya adikku pulang dan membangunkanku untuk berangkat ke rumah tante tempat kakek. Jujur saja, ada perasaan takut melihat bendera putih tergantung di depan rumah tanteku tapi akhirnya aku benar-benar melihatnya. Tapi, aku belum menangis.

Saat duduk-duduk di ruang tamu tempat jenazah kakek dibaringkan sementara, aku masih biasa. Baru setelah ada orang yang membuka kain yang menutup wajah kakek, tangisku pecah. Aku tidak benar-benar tahu apakah tengah bersedih, tapi perasaanku berat dan air mata tanpa kendali keluar membasahi pipiku. Aku hanya mengaji. Berharap kebaikan diberikan kepada kakekku dengan menjadikan setiap ayat yang kubaca adalah do’a untuknya. Bacaanku takkan sampai ke kakek, tetapi, Allah membolehkan menjadikan sebuah kebaikan sebagai tawassul.

Duka Keluarga

Saat itu, aku sadar pula, dibandingkan kesedihanku, duka kelurgaku jauh lebih besar dan dalam. Bagaimanapun, yang meninggal adalah bapak mereka. Sembab menjadi penghias wajah mereka malam itu. Itu juga rasanya baru pertama kali aku melihat mereka benar-benar berkumpul, anak-anak dari kakekku.

Ya, bahkan hingga setelah penguburan jenazah kakek, hatiku masih saja tidak karuan, begitu pula dengan keluarga yang lain. Baru pertama kali juga aku merasakan tension yang cukup berat ketika bersama mereka, tetapi mereka juga tetap menawarkan kehangatan.

Baru pertama kali seluruh om dan tante yang merupakan anak kakekku berkumpul, kecuali satu om yang telah meninggal itu. Tapi, istri dan anaknya juga datang. Ya, rasanya berbeda, tetapi juga mengharukan. Aku mendengar mereka bercerita tentang masa-masa kebersamaan mereka dengan kakek, mereka tertawa. Ya, aku tahu, itu untuk mengusir kesedihan mereka. Tapi, aku masih tidak tahu memanipulasi hatiku untuk sementara.

Sehari setelah kakek dikuburkan, aku memutuskan untuk mulai berangkat kuliah karena aku sudah 3 kali absen. Ternyata, mata kuliah itu mengadakan ujian dan aku tidak tahu. Syukurlah karena open book. Tapi, aku tidak begitu yakin karena aku mengerjakannya dalam kondisi hati tidak karuan. Untuk tersenyum pun rasanya begitu melelahkan. Tapi, sepertinya bertemu dengan teman-temanku adalah pilihan yang tepat. Kesedihanku memudar dan aku pulang dalam keadaan plong.

Ya, jujur saja, ini adalah kali pertama aku berduka. Kali pertama aku ditinggalkan oleh orang yang mengalirkan darah yang sama denganku dan aku benar-benar merasakannya. Dulu waktu omku meninggal, aku masih kecil dan tidak begitu mengerti. Tetapi, kakekku berbeda. Aku masih mengurusnya, masih mendengarnya meminta, masih melihat matanya, masih memegang kedua tangannya. Sebelumnya meninggal, aku selalu memegang tangannya untuk mengukur suhu tubuhnya. Saat itu, aku merasa memang waktunya sudah tidak lama lagi. Tubuhnya dingin, atau kadang aku merasa suhunya tidak ada. Saat itu, aku memang ingin mewudhu’kannya tapi tidak jadi karena ia tidak ingin terkena air.

Hingga kini, mengingatnya saja masih meneteskan air mataku.

Ya, Allah, tolong ampuni dosa kakek… dan lapangkanlah kuburnya. Berikan kebaikan kepadanya dari sisi-Mu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s